By Munif Chatib
بسم الله الرحمن الرحيم
Kata teman-teman, saya adalah orang yang selalu menyederhanakan hal yang rumit-rumit. Ya, mungkin meraka ada benarnya. Seperti judul artikel ini, SEDERHANANYA APLIKASI SEKOLAH INKLUSI. Padahal banyak orang bilang membangun sekolah inklusi adalah seperti membangun 100 sekolah sekaligus. Namun, kenapa saya mengatakan sekolah inklusi dapat diwujudkan dengan cara yang sederhana?
Pertama: Niat membangun sekolah inklusi, “Education for All”
Ya, yang pertama adalah NIAT. Penyelenggara sekolah harus dari awal meniatkan diri untuk menjadikan sekolahnya menjadi SEKOLAH INKLUSI. Kepala sekolahnya juga harus NIAT bahwa dia bekerja memimpin sebuah sekolah yang inklusi. Juga para guru harus mempunyai NIAT mengajar dan berhadapan dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Nah tanpa NIAT, maka cukup sulit. Bagi saya, NIAT adalah hal yang sederhana untuk dilakukan. Benar bukan?
Ketiga: Menyiapkan guru pendamping (shadow teacher)
Biasanya memasuki tahapyangketiga ini mulai susah dicari. Sebenarnya guru pendamping untuk anak berkebutuhan khusus hanya mempunyai 2 tugas. Tugas pertama adalah membuat Individual Program (IP). Maksudnya guru pendamping melakukan reduksi silabus khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Membuat IP ini adalah pekerjaan yang sederhana dan mudah dilatihkan. Tugas kedua adalah mengatasi ABK yang ‘tantrum’ atau mengamuk. Cara untuk mengatasi tantrum dapat juga dilatihkan secara praktis. Jika sulit mencari guru pendamping, mestinya semua guru mata pelajaran mampu melaksanakan tugas guru pendamping ini. Guru pendamping ini bertugas di kelas. Menemani ABK yang juga ada di kelas tersebut bersama anak-anak reguler. Jika semua guru mata pelajaran mau belajar menjadi guru pendamping, maka masalah sulitnya mencari guru dapat diatasi. Saya pikir, mencari guru pendamping atau melatih guru mapel menjadi guru pendamping adalah pekerjaan yang jelas dan SEDERHANA. Persis sekolah-sekolah umum mencari guru bermacam ekstra kurikuler.
Keempat: Bekerja sama dengan terapis
Nah hal yang keempat ini, sekolah inklusi harus aktif berkerja sama dengan terapis-terapis di sekitarnya. Setiap ABK terkadang membutuhkan terapi tertentu untuk membantu perkembangannya. Terapis ini dapat dilakukan pada jam sekolah atau di luar jam sekolah. Jadi sangat fleksibel. Bagi sekolah inklusi pemula, saya menganjurkan bekerja sama dengan terapis yang sudah membuka klinik atau praktek. Lain halnya jika sekolah tersebut ingin mempunyai tim terapis sendiri. Maka hal itu lebih baik. Menurut saya, bekerja sama dengan terapis juga merupakan pekerjaan yang tidak sulit. Sama saja sebuah sekolah bekerja sama dengan beberapa stake holder atau pihak ketiga untuk melaksanakan sebuah program. Bekerja sama dengan terapi adalah hal SEDERHANA.
Jadi kesimpulannya, ada 4 hal yang perlu dipersiapkan untuk membangun sekolah inklusi, yaitu: NIAT, ORANGTUA/WALI MURID, GURU PENDAMPING dan TERAPIS.
Ayo bismillah, kita rencanakan dengan matang, lalu kita aplikasikan.
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sumber : Munif Chatib Full I
Tidak ada komentar:
Posting Komentar